KH Luqman: Islam dan Tradisi Jawa Simetris, Larung Sesaji Jadi Wujud Syukur Nelayan Pacitan

MAHADALY-ATTARMASI.AC.ID, PACITAN – Pengasuh Perguruan Islam Pondok Tremas Arjosari Pacitan, KH Luqman Harits Dimyathi, menilai ajaran Islam dan tradisi Jawa memiliki hubungan yang selaras. Karena itu, tradisi Larung Sesaji yang digelar nelayan Pacitan menjelang 1 Muharam 1448 Hijriah dipandang sebagai wujud rasa syukur, bukan sekadar ritual budaya.

Menurut KH Luqman, masyarakat Jawa memiliki tradisi yang secara waktu maupun nilai beririsan dengan ajaran Islam, termasuk momentum malam 1 Suro yang bertepatan dengan Tahun Baru Hijriah.

“Peringatan 1 Suro dengan tahun baru Islam bagi orang Jawa memiliki kesamaan segi waktu dan sebagainya. Orang Jawa harus bangga. Islam identik, penanggalannya juga sama,” kata KH Luqman, Senin (15/6/2026).

Ia bahkan menyebut hubungan Islam dan budaya Jawa tidak semestinya dipertentangkan. Dalam pandangannya, keduanya justru memiliki titik temu yang kuat.

“Islam dengan Jawa dari sisi ajaran dan tradisi juga simetris,” ujarnya.

Pernyataan itu disampaikan KH Luqman menanggapi tradisi Larung Sesaji yang setiap tahun digelar masyarakat nelayan di pesisir selatan Pacitan sebagai bagian dari peringatan malam Suro sekaligus ungkapan syukur atas hasil laut.

Prosesi tersebut diawali dengan doa bersama para nelayan, ulama, dan pejabat daerah. Setelah itu, masyarakat menggelar kembul bujana atau makan bersama sebelum dua tumpeng besar diarak menuju Dermaga Tamperan untuk dilarung ke laut selatan.

Sebelum dilepaskan ke tengah laut, kapal pembawa sesaji terlebih dahulu diputar tiga kali. Tradisi itu disambut antusias masyarakat dan diramaikan hiburan rakyat, mulai kesenian reog hingga pelaku UMKM di sekitar lokasi.

KH Luqman mengatakan para nelayan perlu memaknai tradisi itu sebagai bentuk syukur atas limpahan hasil laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan.

“Para nelayan harus lebih bersyukur. Dari sisi ikan saja mengandung banyak manfaat, vitamin, omega, sudah tidak ngasih makan, tapi Allah SWT malah memberikan berbagai gizi, maka harus benar-benar bersyukur,” katanya.

Menurut dia, rasa syukur itu penting karena manusia memperoleh banyak manfaat dari laut tanpa harus memberi makan ataupun merawat sumber daya tersebut secara langsung.

Di tengah pandangan sebagian pihak yang menilai Larung Sesaji identik dengan praktik musyrik, KH Luqman meminta masyarakat melihat tradisi secara lebih utuh.

Ia menyinggung sosok Kanjeng Ratu Kidul yang kerap dikaitkan dengan laut selatan. Dalam pandangannya, makhluk gaib tetap merupakan ciptaan Allah SWT.

“Perkara Ratu Kidul, dia adalah makhluknya Gusti Allah, ya difatihahi ya enggak apa-apa. Makhluknya Allah ada yang terlihat ada yang tidak, termasuk bangsa jin,” ujarnya.

KH Luqman juga menilai masyarakat Jawa tidak perlu minder terhadap tradisi lokal selama substansinya tidak bertentangan dengan nilai agama.

“Orang Jawa itu melafalkan doa tidak harus fasih, bahkan berbagai negara pun demikian, tidak usah jadi olok-olokan. Meski tidak fasih, tapi jika diverifikasi masih nyambung dengan bahasa Arab,” katanya.

Ia bahkan mengingat kembali pengalamannya semasa kecil ketika mengikuti tradisi malam Suro bersama sang ayah menuju pantai pada dini hari.

“Dulu saya waktu kecil naik truk bareng bapak saya jam 1 malam ke pantai saat Suro,” kenangnya.

Menurut KH Luqman, tradisi menuju laut saat malam Suro diyakini sebagian masyarakat sebagai bagian dari doa dan harapan agar dijauhkan dari penyakit maupun bala.

“Insyaallah dengan jalan-jalan ke laut pada malam hari, segala penyakit dan balak akan hilang,” pungkasnya.

Sementara itu, Budayawan Pacitan Bambang Sutejo atau Mbah Mamik menjelaskan Larung Sesaji memiliki makna filosofis sebagai simbol penghormatan terhadap alam dan rasa saling menghargai.

“Larung sesaji memiliki arti nalar kang dumunung. Sesaji, ayo podo saling ngajeni,” ujar Mbah Mamik. (Yusuf Arifai)

Leave a Comment