Pesan Haru Lulusan Terbaik Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan: Gelar Sarjana Bukan Akhir, Tapi Awal Pengabdian

MAHADALY-ATTARMASI.AC.ID, PACITAN – Acara Yudisium Marhalah Ula (M1) angkatan VII Ma’had Aly At-Tarmasi Pondok Tremas Pacitan, Sabtu (19/9/2026) malam, meninggalkan kesan mendalam.

Tak hanya diwarnai kebanggaan atas capaian akademik para mahasantri, acara ini juga menjadi momentum penyampaian pesan perpisahan yang sarat makna dari lulusan terbaik.

Mewakili 49 peserta yudisium program studi Takhasus Fiqh wa Ushuluhu, Muhammad Aldi Nur Afif, mahasantri asal Kendal, Jawa Tengah, berkesempatan menyampaikan pidato perpisahan di hadapan para masyayikh, dosen, dan rekan sejawatnya.

Dalam balutan suasana khidmat dan haru, Aldi menegaskan bahwa wisuda dan pencapaian gelar akademik bukanlah garis finis dari sebuah perjuangan.

“Mendapatkan gelar sarjana dan membawa ijazah bukanlah akhir dari sebuah perjuangan, melainkan sebagai babak baru sebuah pengorbanan dan pengabdian,” ujar Aldi lantang, mengawali pesan sarat maknanya.

Lebih lanjut, ia menyoroti urgensi pemahaman fikih yang matang sebelum terjun ke masyarakat. Menurutnya, seorang pelajar agama harus membekali diri dengan dasar-dasar keilmuan yang kokoh sebelum mengemukakan argumentasi atau membangun sebuah produk hukum.

“Selama belajar di Ma’had Aly, kita belajar bahwa sebelum berbicara tentang hukum, seorang faqih harus terlebih dahulu memahami bagaimana hukum itu dibangun. Dari mana ia diambil, bagaimana dalil dipahami, bagaimana lafaz ditelaah, bagaimana illat ditemukan, dan bagaimana sebuah hukum diterapkan terhadap realitas yang terus berubah,” paparnya.

Bagi Aldi, pemahaman yang komprehensif atas dinamika fikih merupakan tanggung jawab moral seorang sarjana Fiqh wa Ushuluhu.

Ilmu agama dalam tradisi pesantren, tegasnya, bukan sekadar kompilasi teori untuk diperdebatkan, melainkan seperangkat pedoman yang harus dihidupkan dalam keseharian.

“Realisasi di atas merupakan tanggung jawab kita sebagai sarjana Fiqh wa Ushuluhu. Karena sesungguhnya ilmu dalam tradisi pesantren bukanlah sekadar sesuatu yang dikumpulkan, tetapi sesuatu yang harus diamalkan, dijaga, dan diwariskan,” pungkas Aldi.

Sidang yang dipimpin langsung oleh Mudir Ma’had Aly At-Tarmasi, KH Luqman Al Hakim Harits Dimyathi ini menetapkan kelulusan bagi 49 mahasantri program studi Takhasus Fiqh wa Ushuluhu.

Pembacaan Surat Keputusan (SK) kelulusan yang dilantunkan oleh Naib Mudir, KH Abdillah Nawawi, mengukuhkan 30 mahasantri lulus dengan predikat Mumtaz (cumlaude), sementara 19 sisanya berhasil meraih predikat Jayyid Jiddan (baik sekali).

Tidak hanya bergelar Sarjana Fiqh wa Ushuluhu (S.F.U), para mahasantri juga meraih sanad keilmuan dari masyayikh hingga Rasulullah SAW.

Orasi ilmiah H. M. Syakirin Al-Ghozali, Lc., M.A., Ph.D turut melengkapi kekhasan wisuda tersebut.

Puncak acara ditutup dengan doa bersama, memohon agar ilmu keagamaan yang telah ditempa selama bertahun-tahun di Ma’had Aly At-Tarmasi dapat menjadi rujukan yang mencerahkan dan membawa kemaslahatan bagi umat Islam di Indonesia. (*)
Editor: Yusuf Arifai

Leave a Comment