Isi Orasi Ilmiah Wisuda Ma’had Aly At-Tarmasi, H Syakirin Al-Ghozali Ajak Lulusan Jadi Tradisionalis Progresif

MAHADALY-ATTARMASI.AC.ID, PACITAN – Sidang Senat Terbuka Wisuda Marhalah Ula (M1) angkatan VII Ma’had Aly At-Tarmasi, Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan, pada Sabtu (19/9/2026) malam diwarnai dengan penyampaian orasi ilmiah yang menggugah. H. M. Syakirin Al-Ghozali, Lc., M.A., Ph.D., didapuk untuk menyampaikan pidato keilmuan yang mengusung tema “Living Tradition, Knowledge Creation” di hadapan para masyayikh dan mahasantri yang diwisuda.

Tampil sebagai bagian dari keluarga besar alumni Tremas, Syakirin merefleksikan dua frasa dalam tema tersebut ibarat dua sisi mata uang atau dua sayap dari satu burung yang sama. Ia menegaskan bahwa Pondok Tremas adalah saksi hidup dari “living tradition” yang telah bertahan lebih dari satu setengah abad. Rutinitas para santri seperti wudu sebelum subuh, wirid, hingga metode pengajian sorogan, bandongan, dan wetonan bukanlah sekadar metode pengajaran, melainkan tradisi yang terus hidup dan dihayati.

Namun, Syakirin mengingatkan bahwa melestarikan tradisi semata tidaklah cukup. Tradisi yang hidup tanpa adanya penciptaan pengetahuan (knowledge creation) akan menjadi stagnan dan keruh ibarat air yang tidak mengalir.

“Knowledge creation berarti kita tidak hanya menjadi konsumen ilmu, tapi juga menjadi produsen ilmu. Kita tidak hanya membaca kitab, tapi juga menulis kitab. Kita tidak hanya mewarisi, tapi juga menciptakan,” urai Syakirin dalam naskah orasinya.

Untuk memadukan kedua entitas tersebut, ia mendorong para mahasantri lulusan program studi Takhasus Fiqh wa Ushuluhu untuk bertransformasi menjadi “tradisionalis yang progresif”. Konsep ini menuntut santri untuk berpegang teguh pada sanad keilmuan dan akhlak tradisi, namun di saat yang bersamaan harus berani berijtihad menciptakan pengetahuan baru yang relevan dengan perkembangan zaman.

Sebagai contoh konkret, Syakirin menantang lulusan Ma’had Aly untuk tidak sekadar membaca kitab fikih muamalah klasik, tetapi berani mengembangkannya menjadi sistem ekonomi syariat yang aplikatif. Di bidang kesehatan mental, ia menyarankan agar khazanah tasawuf seperti tazkiyatun nafs, muraqabah, dan muhasabah diterjemahkan ke dalam metode terapi kejiwaan modern yang mudah dipraktikkan masyarakat.

Guna mewujudkan hal tersebut, ia membeberkan empat metodologi penciptaan pengetahuan yang berakar pada tradisi pesantren. Keempat pilar itu meliputi Tahqiq (verifikasi kesahihan teks), Takhrij (pelacakan sumber dan sanad keilmuan), Ijtihad (perumusan hukum baru berpegang pada prinsip syariat), dan Taqdim (penyajian ilmu dengan bahasa dan metode yang relevan).

Di penghujung orasinya, Syakirin menitipkan tiga pesan penting sebagai bekal para sarjana fikih menghadapi realitas kehidupan bermasyarakat yang penuh godaan dan keraguan. Ia mengingatkan mahasantri untuk menjadikan ilmu sebagai kompas, akhlak sebagai bekal, dan doa sebagai senjata. Ia juga meminta mereka untuk terus belajar, menulis karya, dan menjaga nama baik Pondok Tremas sebagai duta pesantren.

“Semoga Allah SWT menjadikan para wisudawan sebagai ulama yang amil, bukan hanya alim. Ulama yang tidak hanya tahu, tapi juga mengamalkan. Ulama yang tidak hanya berbicara, tapi juga berbuat,” pungkas Syakirin.

Ia menutup pidato bersejarah tersebut dengan sebuah pantun: “Bukan sekadar kenang masa lalu, Tremas adalah jalan menuju masa depan. Jangan berhenti di ijazah dan gelar, Teruslah mengaji, menulis, dan mengabdi”. (*)
Editor: Yusuf Arifai

Leave a Comment