Gubernur Khofifah: Karya Syekh Mahfudz Atturmusi Jadi Kurikulum S3 Dunia, Tapi Asing di Negeri Sendiri

MAHADALY-ATTARMASI.AC.ID, SURABAYA – Kitab ulama Nusantara rupanya mendapat tempat yang jauh lebih terhormat di kancah global ketimbang di negerinya sendiri.

Fakta ironis ini diungkapkan secara lugas oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, saat menyoroti banyaknya mahakarya intelektual Islam asal Indonesia yang justru menjadi rujukan utama perguruan tinggi di Timur Tengah dan Eropa.

Berbicara dalam peluncuran Program Studi Magister Kajian Turats di UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Sabtu (10/10/2026), Khofifah menyentil fenomena keterasingan literatur pesantren di dunia akademik modern Tanah Air.

“Karya ulama asal Indonesia, seperti kitab karangan Syekh Mahfudz At-Tarmasi yang berjilid-jilid itu justru diwajibkan menjadi kurikulum program S3 di Arab Saudi. Sementara para guru besar di Tanah Air mungkin banyak yang belum mengetahuinya,” ungkap Khofifah di hadapan civitas akademika dan pakar filologi dunia, Syekh Prof. Dr. Muhammad Fadhil Al-Jailani Al-Hasani.

Tak hanya diakui di Timur Tengah, naskah-naskah turats asli Indonesia nyatanya banyak yang tersimpan dan dirawat rapi di perpustakaan-perpustakaan besar di London maupun Belanda.

Sementara di dalam negeri, upaya penyelamatan peninggalan intelektual ini justru kerap menemui jalan terjal dari pemilik naskah.

Khofifah menceritakan perjuangannya sejak April 2019 saat berkeliling ke berbagai pesantren di Jawa Timur.

Bermodal inovasi teknologi tisu dan jeli dari Jepang yang mampu merevitalisasi kertas lapuk, Pemprov Jatim berupaya menyelamatkan naskah kuno.

Namun, niat penyelamatan ini sering ditolak karena sejumlah pesantren menyakralkan naskah tersebut dan memberlakukannya layaknya jimat pelindung.

Melalui pendekatan persuasif yang berliku, tim Pemprov Jatim akhirnya berhasil mengumpulkan sekitar 400 naskah kitab kuno dan mendigitalisasi 200 di antaranya.

Kumpulan naskah tersebut bahkan diringkas menjadi dua jilid kitab ikhtisar yang telah diserahkan langsung secara prestisius kepada Grand Syekh Al-Azhar di Mesir.

Hasil digitalisasi metode penyampaian keilmuan (talaqqi) para kiai, termasuk karya Syaikhona Kholil Bangkalan, juga sukses memukau Duta Besar Mesir.

Pameran digitalisasi ini bahkan mengundang decak kagum saat dipamerkan di kawasan diplomatik Riyadh, Arab Saudi.

Bagi Khofifah, penyelamatan turots adalah langkah strategis untuk masa depan peradaban.

Ia merujuk pada prediksi Profesor Kishore Mahbubani pada 2010 bahwa pusat peradaban dunia akan bergeser ke Asia, dengan Indonesia sebagai pemeran utamanya.

Agar visi itu terwujud, pijakannya harus bertumpu pada nilai Islam moderat yang digali dari pemikiran ulama Nusantara.

Kehadiran Magister Kajian Turats di UINSA yang disebut sebagai prodi satu-satunya di Indonesia ini pun menjadi momentum krusial.

Khofifah mengamanatkan agar program ini benar-benar dihidupkan demi menjamin lestarinya literatur klasik.

“Jangan sampai khazanah keilmuan para ulama terdahulu punah. Turots ini harus dikawal, diterbitkan, dan kelak diangkat sebagai referensi akademik di tingkat dunia,” pungkasnya. (*)
Editor: Yusuf Arifai

Leave a Comment