Mahasantri Ma’had Aly Al-Tarmasi Pacitan Berani Sentil Soal Korupsi, Begini Jawaban BPIP
MA’HADALYALTARMASI, PACITAN – Sosialisasi Pancasila yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Pondok Tremas Pacitan, Kamis (21/8/2025), berlangsung hangat. Tak hanya diisi ceramah, para mahasantri juga berani mengkritisi persoalan bangsa, salah satunya soal maraknya praktik korupsi.
Mahasantri Ma’had Aly Al-Tarmasi, Muhammad Syamsul Rozikin, melontarkan pertanyaan. Ia menyinggung soal praktik korupsi yang semakin marak dan mempertanyakan posisi Pancasila dalam menghadapi masalah itu.
“Bagaimana sikap BPIP terkait maraknya korupsi di Indonesia, yang seakan membuat Pancasila kalah oleh kekuasaan pemerintah?” tanyanya.
Pertanyaan itu langsung dijawab Prof. Dr. Agus Muhammad Najib, Guru Besar Hukum Islam sekaligus Direktur Komunikasi dan Sosialisasi BPIP. Ia menekankan pentingnya membangun pola pikir generasi muda untuk menghadapi tantangan tersebut.
“Menuju Indonesia Emas 2045, pemuda harus punya cita-cita besar, belajar sungguh-sungguh, berdoa sungguh-sungguh, dan jangan melawan negara,” tegasnya.
Jawaban itu menjadi pesan bahwa perjuangan melawan korupsi tak cukup lewat aturan, tapi juga lewat kesadaran moral generasi muda yang berpegang teguh pada Pancasila.
Acara yang dipusatkan di halaman masjid Pondok Tremas ini dihadiri ratusan santri, maha santri, serta jajaran pengasuh. Rangkaian dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Zanuar Mubin, hingga sambutan pengasuh KH. Fu’ad Chabib Dimyati.
Dalam sambutannya, KH. Fu’ad menegaskan bahwa sila pertama Pancasila sejatinya sudah mengakar dalam tradisi Islam.
“Sejak bayi lahir telinganya diazankan, itu bukti sila pertama selaras dengan Islam,” ucapnya.
Kepala BPIP Sebut Proklamasi sebagai Mukjizat
Kepala BPIP, Prof. Dr. KH. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., dalam kesempatan itu mengingatkan betapa istimewanya Proklamasi 17 Agustus 1945.
“Proklamasi adalah mukjizat bangsa Indonesia. Ia terjadi tanpa pertumpahan darah, tapi bisa menyatukan lebih dari 50 bangsa,” katanya.
Menurut Yudian, Indonesia memiliki tiga momentum penting yang tak bisa dipisahkan: Sumpah Pemuda, Lagu Indonesia Raya, dan Proklamasi. “Semua itu berhasil karena kita bersatu,” tambahnya.
Pancasila dan Islam Tak Bisa Dipisahkan
Selain Prof. Najib, hadir pula KH. Luqman Haris Dimyati, Ketua Majelis Ma’arif Pondok Tremas. Ia menegaskan, Pancasila dan Islam saling menguatkan.
“Sejak Muktamar NU 1983, Pancasila sudah jadi kesepakatan umat. Kalau ada orang NU anti-Pancasila, berarti dia anti kepada kiai,” ujarnya lantang.
Pesan ini sekaligus menepis anggapan sebagian pihak yang kerap mempertentangkan Pancasila dengan agama.
Santri Garda Depan Persatuan
Kegiatan sosialisasi ini ditutup dengan menyanyikan lagu Bagimu Negeri tepat pukul 16.24 WIB. Mengusung tema “Penanaman Nilai-Nilai Pancasila di Pesantren dalam Rangka Memperkuat Ideologi Bangsa Menuju Indonesia Emas”, acara ini diharapkan melahirkan santri yang tidak hanya taat beragama, tetapi juga siap menjaga persatuan bangsa. (*)
Penulis: Amalia Nur Eka P
Editor: Yusuf Arifai