Zakat Fitrah di Kampung atau di Perantauan? Ini Penjelasan Fikih dan Batasannya
Menjelang Idul Fitri, satu pertanyaan sering muncul di kalangan perantau, zakat fitrah sebaiknya dibayar di kampung halaman atau di tempat merantau?
Pertanyaan ini bukan sekadar soal teknis. Dalam kajian fikih, masalah tersebut dikenal dengan istilah naqal zakat, yakni memindahkan zakat dari satu daerah ke daerah lain. Para ulama telah membahasnya cukup panjang, terutama dalam mazhab Syafi’i yang menjadi rujukan mayoritas umat Islam di Indonesia.
Pada dasarnya, zakat adalah kewajiban syariat yang memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Ia bukan sekadar sedekah biasa, tetapi sarana menyucikan harta dan jiwa seorang Muslim. Allah SWT berfirman:
خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, serta doakanlah mereka. Sesungguhnya doamu itu menjadi ketenteraman bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. At-Taubah: 103)
Prinsip Dasar: Zakat Didahulukan untuk Daerah Setempat
Dalam Mazhab Syafi’i, prinsip umum distribusi zakat adalah diberikan kepada mustahiq di tempat seseorang berada. Hal ini merujuk pada hadis Nabi ketika mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman:
فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ
“Beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan zakat atas harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi dasar bahwa zakat idealnya beredar di lingkungan masyarakat tempat muzakki berada.
Kapan Zakat Fitrah Menjadi Wajib?
Bagi perantau, kunci penentu lokasi zakat fitrah adalah posisi seseorang saat waktu wajib tiba, yaitu ketika matahari terbenam pada akhir Ramadhan (malam Idul Fitri).
Syekh Abdurrahman bin Muhammad Ba‘lawi menjelaskan dalam Ghayah Talkhish al-Murad:
تجب زكاة الفطر في الموضع الذي كان الشخص فيه عند الغروب، فيصرفها لمن كان هناك من المستحقين، وإلا نقلها إلى أقرب موضع إلى ذلك المكان
“Zakat fitrah wajib ditunaikan di tempat seseorang berada saat matahari terbenam pada akhir Ramadhan. Zakat tersebut diberikan kepada mustahiq yang ada di tempat itu. Jika tidak ditemukan, maka dipindahkan ke tempat terdekat.”
Penjelasan serupa juga ditegaskan Imam Nawawi dalam Al-Majmu’:
قال أصحابنا إذا كان في وقت وجوب زكاة الفطر في بلد وماله فيه وجب صرفها فيه فإن نقلها عنه كان كنقل باقي الزكوات
“Ulama Syafi’iyah berpendapat, jika seseorang berada di suatu daerah ketika waktu wajib zakat fitrah tiba, maka zakat itu disalurkan di daerah tersebut.”
Artinya sederhana: di mana seseorang berada saat malam Idul Fitri, di situlah zakat fitrah dianjurkan dibayarkan.
Perbedaan Pendapat Ulama tentang Memindahkan Zakat
Meski demikian, para ulama berbeda pendapat mengenai hukum memindahkan zakat.
1. Pendapat Muktamad: Tidak Boleh Dipindah
Pendapat yang paling kuat dalam mazhab Syafi’i menyatakan tidak boleh memindahkan zakat jika di daerah tersebut masih ada mustahiq.
Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menegaskan:
ولا يجوز لمالك نقل الزكاة عن بلد المال ولو إلى مسافة قريبة ولا تجزئ
“Tidak boleh bagi pemilik harta memindahkan zakat dari daerahnya, meskipun jaraknya dekat. Jika dipindahkan, zakat itu tidak dianggap sah.”
2. Pendapat Alternatif: Boleh Dipindah
Namun sejumlah ulama Syafi’iyah memiliki pandangan yang lebih longgar.
Dalam Bughyatul Mustarsyidin disebutkan:
اَلرَّاجِحُ فِى الْمَذْهَبِ عَدَمُ جَوَازِ نَقْلِ الزَّكَاةِ وَاخْتَارَ جَمْعُ الْجَوَازَ كَابْنِ عُجَيْلٍ وَابْنِ الصَّلاَحِ
“Pendapat rajih dalam mazhab memang melarang memindahkan zakat. Tetapi sejumlah ulama seperti Ibnu ‘Ujail dan Ibnu Shalah memilih pendapat yang membolehkannya.”
Pendapat ini juga sejalan dengan pandangan sebagian ulama besar, termasuk Imam Abu Hanifah.
Beberapa Pengecualian dalam Fikih
Dalam praktiknya, para ulama memberikan beberapa pengecualian.
Pertama, jika di suatu daerah tidak ditemukan mustahiq. Dalam kondisi ini zakat justru wajib dipindahkan ke daerah terdekat.
Dalam Hasyiyah Qalyubi wa ‘Amirah dijelaskan:
وَلَوْ عُدِمَ الْأَصْنَافُ فِي الْبَلَدِ وَوَجَبَ النَّقْلُ إِلَى أَقْرَبِ الْبِلَادِ
“Jika di suatu daerah tidak ditemukan golongan penerima zakat, maka zakat wajib dipindahkan ke daerah terdekat.”
Kedua, pemindahan oleh pemerintah atau lembaga resmi diperbolehkan.
Dalam I’anah al-Thalibin disebutkan:
وخرج بالمالك الإمام فيجوز له نقلها إلى محل عمله
“Yang dilarang memindahkan zakat adalah pemilik harta. Adapun imam (pemerintah), ia boleh memindahkannya dalam wilayah kewenangannya.”
Ketiga, jika daerah tujuan lebih membutuhkan, sebagian ulama membolehkan pemindahan zakat demi kemaslahatan.
Lalu Bagaimana Sikap Perantau?
Bagi para perantau yang ingin mengambil sikap paling hati-hati sesuai Mazhab Syafi’i, maka cara paling aman adalah membayar zakat fitrah di tempat ia berada saat malam Idul Fitri.
Jika saat itu masih di kota rantau, maka bayarkan di sana. Namun jika sudah pulang kampung sebelum matahari terbenam di akhir Ramadhan, maka zakat dapat dibayarkan di kampung halaman.
Meski demikian, jika seseorang ingin mengirim zakat ke kampung karena ada kerabat yang sangat membutuhkan, hal itu tetap memiliki dasar pendapat ulama yang membolehkannya.
Sebagaimana disebutkan dalam Hasyiyah Qalyubi wa ‘Amirah:
وَيَجُوزُ لِلشَّخْصِ الْعَمَلُ بِهِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ
“Boleh bagi seseorang mengamalkan pendapat tersebut (kebolehan memindahkan zakat) untuk dirinya sendiri.”
Pada akhirnya, persoalan ini memang memiliki ruang ijtihad dalam fikih. Yang terpenting, zakat tetap ditunaikan tepat waktu dan sampai kepada mereka yang berhak menerimanya.
Dengan demikian, baik dibayarkan di perantauan maupun dikirim ke kampung halaman, tujuan utama zakat; membantu fakir miskin dan menyucikan harta tetap dapat terwujud.
Referensi
- Al-Kaf, Hasan bin Ahmad bin Muhammad. 2003. At-Taqrirat as-Sadidah fil Masa’il al-Mufidah (Qism al-Ibadat). Cetakan Pertama. Tarim: Dar al-Mirats al-Nabawi.
- Al-Malibary, Zainuddin bin Abdul Aziz. Fathul Mu’in bi Syarhi Qurrati al-Aini bi Muhimmat ad-Din (Edisi bersama Hasyiyah I’anatut Thalibin). Beirut: Dar al-Fikr.
- Al-Nawawi, Abu Zakaria Yahya bin Syaraf. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab. Jeddah: Maktabah al-Irsyad.
- Al-Syarbini, al-Khatib. Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazh al-Minhaj. Beirut: Dar al-Ma’rifah.
- Al-Zuhaili, Wahbah. 1985. Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu. Juz 2. Damaskus: Dar al-Fikr.
- Ba’alawi, Abdurrahman bin Muhammad bin Husein. Bughyatul Mustarsyidin fi Talkhishi Fatawa Ba’dhal Aimmah minal Mutakhirin. Beirut: Dar al-Fikr.
- Ba’lawi, Abdurrahman bin Muhammad bin Husein. Ghayah Talkhish al-Murad fi Fatawa Ibni Ziyad. Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi.
- Dimyathi, Sayyid al-Bakry bin Muhammad Syatha. Hasyiyah I’anatut Thalibin ‘ala Fathil Mu’in. Beirut: Dar al-Fikr.
- Qalyubi, Syihabuddin dan ‘Amirah. Hasyiyata Qalyubi wa ‘Amirah ‘ala Syarh al-Mahalli. Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi. (*)
Penulis: Samsul Rozikin
Editor : Yusuf Arifai
