Tanpa HP dan Wajib Almamater, Mahasantri Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan Resapi Maqolah Ujian ‘Dimuliakan atau Dihinakan’
Mahasantri Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan ikuti UAS Ganjil dengan aturan ketat kumpul HP dan almamater. Reaktualisasi maqolah ‘dimuliakan atau dihinakan’.
MAHADALY-ATTARMASI.AC.ID, PACITAN – Ratusan mahasantri Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan wajib mengumpulkan ponsel hingga memakai jas almamater demi membuktikan maqolah populer ujian ‘dimuliakan atau dihinakan’ dalam Ujian Akhir Semester (UAS) Ganjil.
Agenda evaluasi akademik ini berlangsung serentak sejak Minggu (23/8/2026) hingga Rabu (26/8/2026) mendatang di lingkungan Ma’had Aly At-Tarmasi.
Sejak hari pertama, aturan ketat diberlakukan untuk menjaga integritas ujian. Para mahasantri dilarang keras membawa buku catatan maupun telepon genggam (smartphone) ke dalam ruangan, serta diwajibkan hadir tepat waktu mengenakan almamater.
Seluruh proses ujian diawasi langsung oleh para muhadir (dosen pengajar) guna memastikan suasana tetap kondusif dan menjunjung tinggi kejujuran akademik.
Bagi civitas akademika Ma’had Aly, UAS Ganjil bukan sekadar pengukur capaian materi kuliah, melainkan sarana pembentukan karakter disiplin dan tanggung jawab. Moment ini sekaligus menjadi penjelmaan dari maqolah (pepatah Arab) yang sangat masyhur:
عِنْدَ الِامْتِحَانِ يُكْرَمُ الْمَرْءُ أَوْ يُهَانُ
“‘Indal imtihani yukramul mar’u au yuhan” (Pada saat ujian, seseorang akan dimuliakan atau dihinakan).
Makna mendalam ungkapan tersebut menegaskan bahwa ujian adalah panggung pembuktian kesungguhan menuntut ilmu. Hasil akhir yang diraih mahasantri nantinya akan mencerminkan kejujuran dan kadar ikhtiar yang telah dilakukan selama satu semester.
Pihak Ma’had Aly At-Tarmasi berharap pelaksanaan UAS Ganjil yang tertib dan objektif ini dapat menghasilkan evaluasi yang valid, baik bagi perkembangan mahasantri maupun peningkatan kualitas pembelajaran lembaga di semester berikutnya. (*)
Penulis: M Fahrul Mukminin | Editor: Yusuf Arifai
