Bahtsul Masail Kubra Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan Bahas Hukum Candaan hingga Shopee VIP
MAHADALY-ATTARMASI.AC.ID, PACITAN – Suasana khas kajian keilmuan pesantren menyelimuti Auditorium Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan, Jumat (14/8/2026). Ratusan santri dan mahasantri memadati lokasi untuk mengikuti Bahtsul Masail Kubro (BMK) perdana yang digagas oleh Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Ma’had Aly At-Tarmasi.
Forum diskusi hukum Islam tingkat tinggi ini menghadirkan perwakilan delegasi dari seluruh tingkatan semester, mulai dari mahasantri awal hingga akhir, serta utusan dari kamar-kamar asrama di lingkungan Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan.
Dua topik aktual dan kontekstual menjadi materi utama yang dikuliti dalam forum ini, yakni hukum candaan (prank/gurauan) serta hukum berlangganan fitur Shopee VIP.
Pelaksanaan BMK perdana ini terbagi dalam dua sesi (jalsah) dengan pengampu keahlian (mushohih) yang berbeda.
Jalsah Ula (Sesi Pertama) berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB khusus bagi peserta putri, dipimpin oleh Ustadz Hamiyya Wildan Zaha selaku mushohih. Jalsah Tsani (Sesi Kedua) digelar pukul 14.00–16.00 WIB khusus bagi peserta putra, dipandu oleh Ustadz Zanuar Mubin sebagai mushohih.
Sejak awal acara, dinamika arena bahtsul masail berlangsung hangat. Saling lempar argumen berlandaskan teks klasik terjadi antara peserta dan tim perumus yang bertugas mengurai fakta lapangan, merajut konstruksi hukum, serta merespons berbagai sanggahan.
Untuk memudahkan pemahaman dan menjaga keakuratan dalil, panitia memanfaatkan teknologi proyektor digital untuk menayangkan teks rujukan kitab secara kolektif di layar besar. Langkah ini membuat seluruh audiens bisa mencermati konstruksi argumentasi dan rujukan turats secara riil selama sidang berlangsung.
Moderator juga aktif membuka ruang tanggapan, sehingga diskusi tidak berjalan searah dan menciptakan iklim ilmiah yang hidup.
Dalam sambutannya, Ustadz Wildan menekankan bahwa agenda ini bukan sekadar panggung dialektika fiqh, melainkan kawah candradimuka untuk mengasah daya kritis dan keberanian santri.
“Jadikan ini sebuah latihan dan jangan takut untuk berargumen,” tegas Ustadz Wildan membakar semangat para peserta. (*)
Penulis: M Fahrul Mukminin | Editor: Yusuf Arifai
