Fadilah Malam Pertama Ramadan: Dosa Berguguran, Pintu Surga Dibuka
MA’HADALYATTARMASI, PACITAN-Malam pertama Ramadan diyakini sebagai momentum pengampunan. Para ulama menjelaskan, siapa pun yang menghidupkan malam pembuka bulan suci ini dengan ibadah, dosanya diampuni seperti bayi yang baru dilahirkan.
Dalam kitab Durrat al-Nasihin fi al-Wa’zhi wa al-Irsyad, Syekh Umar bin Hasan bin Ahmad al-Syakir al-Khaubari menyebutkan:
يَخْرُجُ الْمُؤْمِنُ مِنْ ذَنْبِهِ فِى اَوَّلِ لَيْلَةٍ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ اُمُّهُ
Artinya, pada malam pertama Ramadan, dosa orang mukmin keluar sebagaimana ketika ia dilahirkan oleh ibunya.
Tentu, keutamaan itu bukan datang tanpa sebab. Malam pertama menjadi istimewa ketika diisi dengan salat tarawih, tadarus Alquran, iktikaf, dan amal sunah lainnya. Ramadan bukan sekadar pergantian bulan, tetapi titik awal pembaruan diri.
Keutamaan puasa sendiri dijelaskan lebih luas oleh Syekh Izzuddin bin Abdussalam dalam Maqāshid ash-Shiyām.
Puasa, menurutnya, bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Ia meninggikan derajat, menghapus kesalahan, melemahkan dorongan syahwat, melatih empati melalui sedekah, serta memperkuat ketaatan dan rasa syukur kepada Allah.
Rasulullah SAW menegaskan kemuliaan bulan ini dalam hadis sahih:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ.
“Apabila Ramadan tiba, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dari sini kita pahami bahwa Ramadan adalah musim kebaikan. Ruang untuk berbuat baik terbuka lebar, sementara pintu keburukan dipersempit.
Dalam hadis qudsi yang lain, Allah berfirman:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ…
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Puasa disebut sebagai perisai. Ia melatih pengendalian diri. Orang yang berpuasa diminta menjaga lisan dan emosi. Bahkan, ketika diajak bertengkar, cukup berkata: “Aku sedang berpuasa.”
Balasan puasa juga istimewa. Satu kebaikan bisa dilipatgandakan hingga tujuh ratus kali lipat. Namun untuk puasa, Allah sendiri yang menjanjikan balasan tanpa batas. Orang berpuasa memiliki dua kebahagiaan. Pertama saat berbuka dan kedua saat bertemu Tuhannya kelak.
Karena itu, malam pertama Ramadan bukan sekadar seremoni awal ibadah tahunan. Ia adalah pintu pembuka. Jika dibuka dengan kesungguhan, Ramadan bisa menjadi ruang pembersihan diri yang paling jernih sepanjang tahun.
Maka, pertanyaannya bagaimana kita menyambut malam pertamanya? (*)
Editor: Yusuf Arifai
