KH Luqman Harits Dimyathi Kupas Kitab Asybah wa Nadhair: Dzat Allah Tak Serupa Apapun
MA’HADALYALTARMASI, PACITAN – Mudir Ma’had Aly Al-Tarmasi Pacitan, KH Luqman Harits Dimyathi, membedah Kitab Asybah wa Nadhair karya Imam Jalaluddin al-Suyuthi.
Fokus kajian ini untuk menajamkan pengetahuan kaidah fikih, salah satu fondasi penting dalam khazanah keilmuan Islam.
Mengawali kajian, KH Luqman membacakan bagian Muqaddimah kitab dengan teks Arab lalu memaknainya dalam bahasa Jawa Pegon.
Setelah itu, beliau menguraikan makna secara lugas dengan metode murod, gaya penyampaian khas yang membuat bahasa kitab lebih mudah dicerna.
Di hadapan para mahasantri, KH Luqman menyoroti pujian unik yang ditulis al-Suyuthi di awal kitab: “Allahumma ya man tanazzahu an al-asybah wa an-nadhair”.
“Kalimat ini bermakna Allah bersih dari kemiripan dan perbandingan,” jelasnya, di Aula Ndalem Dipomenggalan, Jumat (8/8/2025) malam.
KH Luqman lalu menekankan pesan penting, bahwa Dzat Allah tidaklah seperti yang terlintas dalam penglihatan, pendengaran serta dhamair (hati) manusia.
“Allah memiliki sifat kabair dan ‘adhamah yang bilamana direbut oleh manusia, ia akan hancur dan rusak dari berbagai aspek seperti hati dan psikologisnya,” paparnya.
Sontak pada bagian ini membuat para mahasantri tertegun. Beberapa tampak mencatat setiap kata, sebab mereka khawatir kehilangan setiap detail makna per kalimat.
Konsistensi Ngaji Adalah Kunci
Selain mengupas isi kitab, KH Luqman memberikan pesan motivasi yang menohok. Ia menegaskan bahwa ngaji bukan sekadar rutinitas atau formalitas dalam kehidupan santri.
“Santri harus menjaga konsistensi ngaji agar terus menambah perbendaharaan kosakata bahasa Arab. Bahasa Arab ini adalah kunci, gerbang utama untuk memahami ilmu-ilmu Islam,” tegasnya.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa dalam menuntut ilmu, ketekunan lebih penting daripada kecepatan. Bagi para mahasantri, ini adalah ajakan untuk memandang ngaji sebagai proses seumur hidup, bukan hanya tugas saat masih mondok.
Lebih dari Sekadar Kajian Kitab
Kitab Asybah wa Nadhair dikenal sebagai salah satu rujukan utama untuk memahami kaidah-kaidah fikih. Di dalamnya, ulama besar al-Suyuthi menjelaskan prinsip-prinsip hukum Islam yang berlaku lintas mazhab.
Kajian ini bukan hanya membahas teks, tapi juga melatih cara berpikir hukum yang logis dan sistematis. Dengan memahami kaidah fikih, santri diharapkan mampu menjawab tantangan zaman tanpa keluar dari koridor syariat.
Bagi para mahasantri, malam itu menjadi ajang memperdalam pemahaman, memperkaya wawasan, dan mengasah kemampuan menganalisis.
Sebelum menutup lembaran kitab, aula kembali hening. KH Luqman memimpin doa bersama, memohon agar ilmu yang dipelajari menjadi berkah dan bermanfaat.
Mahasantri pun menundukkan kepala, meresapi doa itu sambil meneguhkan niat untuk terus belajar. Bagi mereka, kajian malam ini bukan sekadar pelajaran, tapi bekal berharga untuk perjalanan akademik dan spiritual di Ma’had Aly Al-Tarmasi.
Merasa Dapat Pencerahan
Tak hanya mahasantri, salah seorang Muhadir, Tri Purwanto mengaku mendapatkan sudut pandang baru.
“Penjelasan Kiai sangat rinci. Saya jadi lebih mengerti makna muqaddimah kitab dan filosofi di baliknya,” ungkapnya.
“Kiai memberi contoh-contoh yang relevan, jadi kami bisa membayangkan aplikasinya,” sambungnya.
Tradisi Ilmu yang Tak Lekang
Ma’had Aly Al-Tarmasi Pacitan selama ini konsisten menjaga tradisi ngaji kitab turats. Kajian Asybah wa Nadhair menjadi salah satu bentuk komitmen untuk menghubungkan generasi mahasantri hari ini dengan warisan keilmuan para ulama.
Bagi KH Luqman, membimbing santri bukan sekadar transfer ilmu, tapi juga penanaman adab, kesabaran, dan rasa hormat kepada guru.
“Ilmu tanpa adab akan mudah hilang,” begitu pesan yang kerap beliau sampaikan di kesempatan lain.
Dengan begitu, Ma’had Aly Al-Tarmasi Pacitan sudah barang tentu akan terus melahirkan kader ulama yang tidak hanya pintar, tapi juga berkarakter. (*)
Pewarta: Dewi Imala, Tsabita Najma Salsabila
Editor : Yusuf Arifai