Mahasantri Baru Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan Diingatkan Bahaya Judi Online hingga Kecanduan Game

MAHADAY-ATTARMASI.AC.ID, PACITANMuddah Sayata’arrofu mahasantri baru (Mustamirru) di Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan ditegaskan sebagai tahapan wajib yang tak bisa ditawar bagi mahasantri baru sebelum benar-benar masuk dunia perkuliahan.

Pesan itu disampaikan langsung Mudir, KH Luqman Al Hakim Harits Dimyathi, saat membuka kegiatan, Senin (13/4/2026) malam di auditorium kampus setempat.

“Proses ini merupakan hal wajib yang harus kalian ikuti. Saya tekankan kedisiplinan, keaktifan,” ujarnya lugas.

Mustamirru dijadwalkan berlangsung selama empat malam ke depan. Sejak awal, forum ini memang dirancang sebagai pintu masuk, bukan hanya mengenalkan lingkungan kampus, tetapi juga menanamkan kultur belajar dan etos santri.

KH Luqman tak sekadar memberi sambutan formal. Ia langsung menyentil gaya hidup generasi muda hari ini. Mulai dari judi online, penggunaan media sosial yang tak produktif, hingga kecanduan game.

Menurutnya, hal-hal itu pelan tapi pasti bisa merusak mentalitas mahasantri.

“Manfaatkan kegiatan dan fasilitas yang ada. Jangan sampai waktu habis untuk hal yang tidak berguna,” pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya aktif berorganisasi. Dari situlah, kata dia, jaringan dan pengalaman terbentuk. Menurutnya, dua hal inilah yang kerap jadi pembeda dalam perjalanan seseorang.

Di sisi lain, Ketua Pelaksana Mustamirru, Atillal Syarofurrohman, mengingatkan hal yang tak kalah penting jangan jadi mahasantri pasif.

“Selamat bergabung dalam keluarga besar Ma’had Aly At-Tarmasi. Jadilah mahasantri yang aktif, berkontribusi, dan jangan sampai menjadi pribadi yang pasif. Karena keaktifanlah yang akan mengantarkan kalian pada keberkahan ilmu,” tegasnya.

Dorongan lebih jauh datang dari salah satu muhadir, Rifki Hamiyal Hadi. Ia bahkan melempar tantangan yang cukup tinggi bagi para mahasantri baru.

“Setelah lulus dari Ma’had Aly, kalian harus terbang ke Prancis, Inggris, dan negara-negara maju lainnya. Kuasai berbagai ilmu, jangan hanya terpaku pada satu bidang,” katanya.

Tak hanya di ruang auditorium, rangkaian mustamirru juga menyentuh sisi spiritual dan sosial.

Sore sebelumnya, Para mahasantri diajak ziarah ke makam para masyayikh sebagai bentuk penghormatan sekaligus meneladani jejak keilmuan pendahulu.

Di saat yang sama, mereka juga diajak roan kerja bakti membersihkan lingkungan kampus.

Dengan begitu, Mustamirru diharapkan tak berhenti sebagai agenda pengenalan semata. Lebih dari itu, menjadi titik awal lahirnya mahasantri yang aktif, kritis, dan siap bersaing secara global tanpa kehilangan akar tradisi keilmuan pesantren. (*)

Penulis : Nabila
Editor : Yusuf Arifai

Leave a Comment