Mengulik Jejak KH Hamid Dimyathi, Penggagas Qismun Nizham yang Syahid di Sumur Maut PKI 1948
MAHADALY-ATTARMASI.AC.ID, PACITAN-Nama KH Hamid Dimyathi kerap mencuat ke permukaan setiap kali bangsa ini mengenang sejarah kelam kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1948, serta diskursus mengenai pengusulannya sebagai Pahlawan Nasional. Namun, jauh sebelum akhir hayatnya yang tragis di dasar sumur tua, kiai asal Pacitan ini telah menorehkan warisan emas sebagai pembaru wajah pendidikan Islam di Nusantara.
KH Hamid Dimyathi, putra dari KH Dimyathi, merupakan penerus estafet kepemimpinan Perguruan Islam Pondok Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan. Hidup di era transisi besar dari akhir kolonialisme, pendudukan Jepang, proklamasi, hingga revolusi fisik, Kiai Hamid menyadari bahwa tradisi pesantren harus dipertahankan, namun santri juga wajib dibekali kemampuan menghadapi dunia yang terus berubah.
Bapak Literasi dan Pembaru Pendidikan Tremas
Di bawah kepemimpinannya, Pondok Tremas tidak hanya mempertahankan akar keilmuan yang kuat, tetapi menjelma menjadi ruang pendidikan yang terorganisasi dan terbuka.
Salah satu simbol kemajuan paling menonjol pada masanya adalah pendirian perpustakaan pesantren yang disebut-sebut sangat lengkap. Bagi Kiai Hamid, buku bukan sekadar pajangan lemari, melainkan instrumen untuk membangun budaya intelektual di tengah keterbatasan sarana pendidikan era itu.
Metode pengajarannya pun terbilang progresif. Ia menjadikan bahasa Arab bukan sekadar teori yang dihafal, melainkan alat komunikasi keilmuan sehari-hari. Santri yang ingin berdiskusi dengannya didorong menggunakan bahasa Arab. Kiai Hamid juga memperkenalkan sistem pendidikan yang lebih terstruktur di Tremas yang dikenal dengan istilah Qismun Nizham.
Lebih dari itu, Kiai Hamid memiliki kepekaan luar biasa dalam membaca kecenderungan intelektual santrinya. Ia tidak mencetak santri dengan cetakan yang seragam. Salah satu bukti sejarahnya adalah ketika ia secara khusus mengarahkan seorang santri bernama Mukti Ali untuk mendalami ilmu filsafat. Santri tersebut kelak dikenal oleh bangsa ini sebagai Prof. Mukti Ali, akademisi terkemuka sekaligus Menteri Agama Republik Indonesia.
Dari Bilik Pesantren ke Panggung Nasional
Pengaruh Kiai Hamid tidak hanya bergaung di lembah Tremas. Kesadaran kebangsaannya membawa sang kiai melangkah ke arena publik. Pada masa pendudukan Jepang (Juli 1943), ia menjadi wakil ulama Karesidenan Madiun dalam pelatihan Kiai Kyosyukai.
Jejak pengabdiannya merambah ke jalur birokrasi dan politik ketika ia menjabat sebagai Kepala Penghulu Kabupaten Pacitan, aktivis Partai Masyumi, tokoh Hizbullah, hingga terpilih menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Dalam dokumen resmi Republik, namanya tercatat sebagai “Dimjati Termas” dengan nomor anggota 288 yang mulai bertugas sejak 28 Februari 1946. Kiai dari desa di Pacitan itu resmi berada di episentrum pembentukan negara yang masih seumur jagung.
Tragedi 1948 dan Perjalanan Tanpa Pulang
Pilihan Kiai Hamid untuk turun gunung membela masyarakat membawa risiko fatal. Memasuki September 1948, krisis meledak di Madiun ketika PKI melakukan pemberontakan berdarah. Karesidenan Madiun, termasuk Pacitan, terseret ke dalam pusaran konflik. PKI menjadikan tokoh pemerintahan, umat beragama, dan politisi penentang komunis sebagai target utama.
Melihat keselamatan umat yang kian terancam, Kiai Hamid berusaha menghubungi Pemerintah Pusat di Yogyakarta via telepon, namun gagal. Ia akhirnya mengambil keputusan berani untuk berangkat langsung ke Yogyakarta dengan berjalan kaki secara sembunyi-sembunyi bersama 14 orang pengikutnya.
Nahas, saat mengambil jalan pintas dan singgah di sebuah warung di Pracimantoro (selatan Wonogiri), penyamaran rombongan ini terendus oleh gerombolan pemberontak PKI. Kiai Hamid dan pengikutnya ditangkap lalu dibawa ke Baturetno.
Di tempat penyekapan tersebut, mereka mengalami penyiksaan di luar batas kemanusiaan selama sepekan. Gerombolan pemberontak kemudian memindahkan rombongan ke wilayah Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri. Di kawasan inilah pembantaian keji terjadi. KH Hamid Dimyathi beserta pengikutnya diduga dihabisi dan jasadnya dilemparkan ke dalam sebuah lubang sumur tua.
Dari 15 orang dalam rombongan, PKI sengaja membiarkan satu orang hidup bernama Shoimun. Tujuannya adalah sebagai penyambung lidah teror, agar kisah pembantaian tersebut menyebar dan menebar ketakutan di kalangan umat Islam.
Setelah pemberontakan berhasil ditumpas dan situasi membaik, kesaksian Shoimun menjadi petunjuk kunci pencarian lubang pembantaian tersebut. Saat dievakuasi, ditemukan 13 jenazah syuhada yang kondisinya sudah sangat sulit dikenali.
Jenazah pahlawan pesantren dan Republik itu kemudian dipindahkan secara terhormat ke Taman Makam Pahlawan Jurug, di tepi Bengawan Solo, Surakarta. Di lokasi bekas sumur maut di Tirtomoyo, kini berdiri sebuah monumen dan prasasti, menjadi saksi bisu pengorbanan seorang ulama visioner yang darahnya tumpah demi mempertahankan agama dan keutuhan bangsa. (*)
Penulis: Samsul Rozikin | Editor: Yusuf Arifai
