Cetak Generasi Faqih, Mayoritas Mahasantri Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan Raih Cumlaude di Yudisium

MAHADALY-ATTARMASI.AC.ID, PACITAN – Suasana khidmat nan membanggakan menyelimuti Ndalem Paguron Soko Papat, Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan, Jumat (18/9/2026) malam. Sebanyak 49 mahasantri Ma’had Aly At-Tarmasi sukses mengikuti prosesi Yudisium Marhalah Ula (M1) angkatan VII untuk program studi Takhasus Fiqh wa Ushuluhu Tahun Akademik 1448 H/2026 M.

Prestasi akademik yang ditorehkan angkatan ini terbilang luar biasa. Dari total 49 peserta yudisium, sebanyak 30 mahasantri dinyatakan lulus dengan predikat Mumtaz (cumlaude), sementara 19 mahasantri lainnya berhasil meraih predikat Jayyid Jiddan (baik sekali).

Pembacaan Surat Keputusan (SK) Yudisium dibacakan secara langsung oleh Naib Mudir Ma’had Aly At-Tarmasi, KH Abdillah Nawawi. Prosesi ini kemudian dilanjutkan dengan penyerahan SK kelulusan secara simbolis oleh Mudir Ma’had Aly At-Tarmasi, KH Luqman Al Hakim Harits Dimyathi, kepada para mahasantri.

Dalam prosesi yudisium tersebut, KH Luqman Al Hakim Harits Dimyathi juga memberikan orasi ilmiah. Ia menyampaikan kajian mendalam mengenai kedudukan ilmu dan otoritas keilmuan dalam tradisi Islam. Beliau menegaskan bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah Khazinatul Ilmi (gudangnya ilmu), dan setelah wafatnya beliau, para sahabatlah yang menjadi pewaris otoritas keilmuan terbaik.

“Sayyidina Ali itu adalah Babul Ilmi (pintunya ilmu). Para sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali menguasai keilmuan secara utuh,” tegas KH Luqman.

KH Luqman juga menyoroti fenomena maraknya tokoh-tokoh kontemporer yang kerap diberi gelar mentereng namun sesungguhnya tidak memiliki kapabilitas yang sepadan dengan ulama salaf. Beliau mengajak para mahasantri untuk meneladani ulama terdahulu yang tidak mengandalkan gelar kehormatan semu, melainkan membuktikan diri melalui penguasaan ilmu agama yang mumpuni, tawaduk, dan istikamah.

“Jangan dikira para sahabat tidak berilmu. Justru sahabat adalah manusia terbaik pasca-Rasulullah. Jangan terkecoh dengan gelar dokter atau profesor zaman sekarang, karena Sayyidina Umar saja kalau secara gelar ya kalah dengan dokter, tapi ilmunya jauh melampaui,” imbuhnya seraya berkelakar, yang disambut tawa tipis para mahasantri.

Di akhir orasinya, beliau menitipkan pesan penting kepada seluruh mahasantri yang baru di-yudisium. Beliau berharap ilmu yang diperoleh selama di Ma’had Aly At-Tarmasi dapat menjadi ilmu yang bermanfaat dan membawa keberkahan di tengah-tengah masyarakat kelak.

“Saya berdoa agar ilmu yang kalian dapatkan menjadi ilmu yang bermanfaat (ilman nafi’an) dan mubarakan,” pungkas KH Luqman sebelum menutup acara dengan doa. (*)

Editor: Yusuf Arifai

Leave a Comment