Muhadlarah Ammah Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan Kupas Sejarah, Bentuk, dan Fungsi Alquran

MAHADALY-ATTARMASI.AC.ID, PACITAN – Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan kembali menyelenggarakan kegiatan akademik melalui forum Muhadlarah ‘Ammah (kuliah umum), Sabtu (31/10/2026) malam.

Mengusung tema “Alquran sebagai Kitab Suci: Sejarah, Bentuk, dan Fungsi”, kegiatan yang diikuti seluruh muhadhir dan mahasantri aktif ini menghadirkan Wakil Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Ahmad Rafiq, S.Ag., M.Ag., M.A., Ph.D. sebagai narasumber.

Dalam sambutannya, Mudir Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan, KH. Luqman Harits Dimyathi mengajak para mahasantri untuk merefleksikan posisi Alquran di tengah era digital yang ditandai dengan tingginya intensitas penggunaan teknologi sehari-hari.

“Kita setiap hari selama 24 jam tidak pernah lepas dari teknologi, terutama telepon genggam. Pertanyaannya adalah bagaimana konteks teknologi tersebut kita hubungkan dengan Alquran,” ujar KH. Luqman di hadapan peserta.

Menurutnya, tantangan generasi saat ini bukan sekadar menguasai perangkat teknologi, melainkan mampu menjadikan ilmu pengetahuan sebagai orientasi utama dalam kehidupan.

Kaji Asal-Usul, Bentuk, dan Fungsi Kitab Suci

Sementara itu, dalam pemaparan materinya, Dr. Ahmad Rafiq menjelaskan bahwa Alquran memiliki cakupan fungsi yang luas dalam perjalanan sejarah umat manusia.

Alquran hadir sebagai hudan lil muttaqin (petunjuk bagi orang-orang bertakwa), berkembang menjadi hudan lin-nas (petunjuk bagi seluruh manusia), serta berfungsi sebagai syifa’ (obat) dan rahmah (rahmat).

“Ketika kita membicarakan kitab suci, ada tiga isu penting yang perlu dikaji, yaitu asal-usulnya, bentuknya, dan fungsinya,” jelas Rafiq.

Pada aspek sejarah, ia menerangkan bahwa sejarah selalu berkaitan dengan dimensi ruang dan waktu yang dapat ditelusuri sejak masa Nabi Muhammad SAW, para sahabat, hingga generasi setelahnya.

Kendati demikian, pemahaman terhadap Alquran tidak hanya dibangun melalui pendekatan historis semata, tetapi juga melalui keyakinan keagamaan yang saling melengkapi.

“Karena itu kita mempercayai Alquran bukan semata-mata karena data historis, tetapi karena adanya keterhubungan antara dimensi sejarah dan akidah,” terangnya.

Terkait aspek bentuk, Dr Ahmad Rafiq menguraikan bahwa wujud awal Alquran sejatinya adalah bunyi atau bacaan lisan, sedangkan tulisan hadir sebagai sarana untuk membantu menjaga serta menguatkan hafalan.

Pada masa sahabat, fungsi tulisan lebih bersifat mnemonik atau sebagai alat pengingat terhadap bacaan yang telah dihafalkan.

Oleh sebab itu, lanjut dia, keberadaan manuskrip kuno Alquran tidak dapat serta-merta dijadikan dasar untuk mengklaim adanya perbedaan ayat. Hal ini dikarenakan sistem verifikasi utama Al-Qur’an sejak awal bertumpu pada transmisi bacaan lisan yang diwariskan secara berkesinambungan.

Di samping sebagai teks yang dibaca, Alquran juga memiliki fungsi performatif dalam membentuk perilaku, praktik kehidupan, tradisi keilmuan, hingga beragam ekspresi sosial dan budaya umat Islam.

Di penghujung pemaparannya, ia mengibaratkan keragaman sudut pandang kajian Alquran layaknya pantulan bola kristal.

“Alquran itu seperti bola kristal. Ia memantulkan warna-warna tertentu sesuai dari mana kita memandangnya. Ketika posisi kita berubah, pantulannya juga berubah. Faktor-faktor di luar diri kita turut memengaruhi bagaimana pantulan itu muncul,” ungkapnya.

Penyelenggaraan Muhadharah ‘Ammah ini menjadi bagian dari upaya Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan dalam memperkuat tradisi akademik pesantren yang memadukan penguasaan teks dengan pengembangan perspektif kritis dalam memahami khazanah keislaman di era modern. (*)

Penulis: Nabilah Khoirunnisa | Editor: Yusuf Arifai | Fotografer: Rani Afra Fitriani

Leave a Comment